Langsung ke konten utama

Dawuh Guru


Gus_Baha' : Hidup Nunggu Mapan Itu Lho Ngapain…?


Sampean kalau menganggap kenal presiden penting, kenal pejabat penting, kenal orang kaya penting, punya duit banyak penting dan lain-lain tapi ndak pernah merasa kalau sujud kepada Allah itu penting. Hati-hati sampean kelak kalau dihisab di mahsyar bisa habis sampean. .


Bagaimana kalau kemudian Allah bilang pas sampean dihisab, "Sana pergi ke sesuatu yang kamu anggap penting. Minta ke dia. Habis sampean."


Kira-kira begitu dawuh Gus Baha. Ulama besar yang sering ngaji di musalla kecil. Menjadi syirik itu tak harus dengan menyembah selain Allah atau menganggap ada yang setara dengan Allah. Merasa ada sesuatu yang lebih penting dari sujud kepada Gusti Allah pun bisa membahayakan status manusia saat di akhirat nanti. .


Jadi kalau bisa waktu meninggal, status seseorang dalam keadaan sujud kepada Allah atau statusnya sebagai orang yang menunggu waktu sujud wajib alias menunggu waktu salat lima waktu. Jangan sampai meninggal dalam keadaan statusnya sebagai orang yang berharap punya uang banyak, berharap punya rumah mewah atau status orang yang berharap pada hal-hal duniawi lain. Orang jangan sembrono. Malaikat akan mencatat status terakhir orang yang meninggal. Dalam keadaan mengabdi kepada Allah atau dalam keadaan memikirkan hal duniawi. .


Jadi hidup yang keren itu hidup yang pola pikirnya menunggu waktu ibadah sambil melakukan kemanfaatan. Bukan hidup menunggu mapan. "Malaikat nanti mencatat si fulan meninggal dalam keadaan menunggu salat Duhur. Kan keren. Bukan si Fulan meninggal dalam keadaan menunggu mapan. Ingin punya mobil mewah ndak kesampaian. Urip (hidup) kok kepingin mapan itu loh laopo (ngapain). Apa ndak kuatir mati dalam keadaan begitu?"


Pada tahap ini banyak umat ndak lolos 'ujian' di padang mahsyar. Mumpung belum, jangan sembrono kalau hidup. Harus banyak ngaji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arti SELAWE, SEKET, SEWIDAK

SELAWE   Selawe jika diucapkan dalam bahasa Indonesia merupakan bilangan dua puluh lima. Dalam bahasa Indonesia urutan bilangan diucapkan : Dua Puluh Satu,  Dua Puluh Dua, ... s/d Dua Puluh Sembilan.  Sementara dalam bahasa jawa diucapkan : Selikur,  Rolikur, ... s/d Songo Likur. Arti kata LIKUR disini merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi. Artinya pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “TEMPAT DUDUKNYA”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis dan lain sebagainya. Pada urutan ini, bilangan 25 tidak disebut sebagai LIMANG LIKUR, melainkan SELAWE. SELAWE (SEneng-senenge  LAnang lan WEdok), artinya puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebut pada umumnya orang menikah (dadi manten). SEKET Keunikan bilangan bahasa jawa selanjutnya adalah bilangan SEKET atau Lima Puluh. Setelah Sepuluh (10), Rongpuluh...

Pesantren Sunan Kalijogo

foto bersama pengurus asrama A di teras masjid kyai Nur salim Pondok Pesantren Sunan Kalijogo sebelum berkembang pesat seperti sekarang, dulunya hanya sebatas tempat ngaji biasa dan bertempat di musholla sunan kalijogo atau yang lebih umum di sebut langgar etan. Yang di asuh oleh Kyai abdul rois (Mbah Is). Beliau merupakan kakak dari pendiri Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Jabung Al-maghfurlah Kyai Nur Salim yang makamnya berada di sebelah utara masjid kyai nur salim. Pondok Pesantren Sunan Kalijogo berada di jalan keramat desa sukolilo jabung. Memiliki lembaga formal dari SD, SMP, SMA, SMK, dan juga Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang, dan juga lembaga non formal yakni madrasah Diniyah dan juga TPQ Sunan Kalijogo. Pondok Pesantren Sunan Kalijogo menekankan pendidikan salafiyyah yang telah di ajarkan oleh para ulama’ salaf dengan mengajarkan akhlak sebagai prioritasnya. Pondok Pesantren Sunan Kalijogo mulai berkembang dan dikenal berawal dari didirikannya sma sunan kal...

Cerita Kami Mahasiswa Kpi IAI SKJ Malang

Sesi Foto bersama mahasiswa Kpi Semester IV bersama Crew JTV Kunjungan Studi Mahasiswa IAI SKJ ke JTV Malang Rabu  11 maret 2020 kami mahasiswa komunikasi & penyiaran islam (KPI) semester IV melaksanakan kegiatan kunjungan studi ke stasiun JTV Malang. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan keilmuan dari para mahasiswa sendiri yang memang salah satunya mengarah pada program siaran. Dalam kunjungan tersebut kami di damping oleh ibu kaprodi kami yakni bu fauziyah rahmawati, S. kom, M. Sos dan juga pak alfian, M. Ikom, selaku dosen jurnalistik media cetak dan online. Tak lupa juga disana kami bertemu dengan tutor yang mahir di bidangnya yakni Miss Oknita Lukma selaku Co reporter JTV Malang yang membimbing kami dan juga memberikan informasi tentang jenis berita, jurnalistik, reportase media, dan lain-lain. Di awal masuk miss oknita mengenalkan tentang jenis berita dan program siaran dari JTV. Kemudian di lanjut dengan pengenalan tempat program siaran dan juga pembelajara...